Baru-baru ini istilah Decacorn tengah menjadi pembahasan di media. Pembahasan tersebut muncul setelah Grab yang merupakan platform on demand mengumumkan telah resmi menjadi Decacorn atau startup yang memiliki valuasi di atas US$10 miliar (sekitar Rp140 triliun).

Valuasi startup Decacorn

Valuasi startup Decacorn tentu lebih tinggi dibanding startup yang masih berstatus Unicorn atau startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar (sekitar Rp14 triliun). Setelah Decacorn, masih ada status yang lebih tinggi yakni Hectocorn.

Pada startup berstatus Hectocorn, nilai valuasinya telah melebihi angka US$100 miliar. Agar sebuah startup bisa menyandang status Unicorn, bahkan Hectocorn, tentu membutuhkan waktu. Untuk mencapai status Unicorn, ada startup yang membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun, ada juga yang mampu menyandang status tersebut kurang dari tiga tahun.

Ambil contoh GOJEK misalnya. Startup besutan Nadiem Makarim itu menjadi startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar Unicorn setelah sekitar enam tahun berdiri, jika melihat dari tanggal kelahirannya. Status Unicorn didapatkan GOJEK pada 4 Agustus 2016, setelah menerima pendanaan senilai $550 juta dari konsorsium delapan investor yang dipimpin Sequoia Capital dan Warbrug.

Sementara Grab yang merupakan kompetitor GOJEK, terbilang cepat mendapatkan status sebagai Unicorn. Sejak berdiri pada 2012, startup asal Singapura ini sudah berstatus Unicorn pada 2014, atau hanya 14 bulan sejak kelahirannya.

Sedangkan Tokopedia, mulai menyandang status Unicorn setelah memperoleh pendanaan senilai US$1,347 miliar. Tokopedia mencatat angka investasi terbesar pada 2017 saat memperoleh dana senilai US$1,1 miliar dari Alibaba. Hampir serupa dengan GOJEK, Tokopedia butuh waktu sekitar enam tahun untuk menjadi Unicorn sejak resmi berdiri.

Bila melihat contoh di atas, penentuan valuasi startup sepertinya terlihat dari nilai pendanaan yang masuk ke startup tersebut. Namun sebenarnya antara satu startup dengan startup lainnya memang memiliki pendekatan yang berbeda-beda untuk menentukan nilai valuasinya.

Baca: Mengenal IoT dan Manfaatnya di Berbagai Bidang

Faktor yang Mempengaruhi Nilai Valuasi Startup

Ada beberapa hal yang mungkin mempengaruhi nilai valuasi startup seperti:

1. Nilai yang Ditentukan Pasar

Nilai ini umumnya diwakili oleh investor. Sebagai contoh, investor mengatakan startup A bernilai US$3 juta. Namun Founder startup tersebut merasa nilainya harus lebih tinggi karena memperhitungkan aset atau talenta bisnisnya. Jika startup tersebut tak bisa mengumpulkan uang dari aset senilai penilaian valuasi dari investor, maka startup itu harus menerima penilaian pasar.

2. Perbandingan dan Proyeksi Keuangan

Founder startup juga bisa menolak nilai valuasi yang diberikan jika dirasa terlalu rendah dengan menggunakan perbandingan dan proyeksi keuangan. Contoh perbandingan seperti cara menilai kapabilitas dan laju perkembangan startup yang bermain di sektor dan di pangsa pasar yang sama. Bagaimana jangkauan produk, traksi pengguna hingga varian produk yang ada di dalamnya akan menjadi bagian penting dalam komparasi tersebut.

Sedangkan untuk proyeksi keuangan, memang tak mudah memastikan angkanya. Namun tren dan traksi pengguna yang ada dari waktu sebelumnya, serta upaya pemasarannya, mungkin bisa dijadikan acuan untuk dianalisis.

3. Profit Bisnis Startup

Ini merupakan cara paling mudah untuk menunjukkan valuasi sebuah startup. Adanya profit yang dihasilkan menunjukkan bahwa bisnis yang dijalankan mampu memberikan keuntungan.

Pada fase awal startup biasanya masih fokus pada perluasan pasar dan akuisisi pengguna. Hal ini akan menjadi tantangan sebuah startup terkait berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai mencapai titik profit, dan membandingkannya dengan perusahaan sejenis.

4. Bagaimana Membangun Startup Bervaluasi Tinggi?

Setelah mengetahui istilah dan cara menghitung valuasi startup, pertanyaan selanjutnya bagi pelaku startup adalah apa saja langkah yang harus dilakukan untuk mencapai status tersebut. Agar bisa menjadi startup Unicorn, seorang Founder harus melakukan perhitungan matang sesuai kondisi pasar saat ini.

Seperti menemukan model bisnis yang menguntungkan, hingga menunggu momen yang tepat untuk merebut hati calon pengguna. Jika hal tersebut berhasil dilakukan, tak menutup kemungkinan akan hadirnya investor yang bersedia mendukung bisnis startup tersebut.

Ahza Global Strategis – Digital Agency Jakarta, Indonesia

Please follow and like us: